HILANGNYA IDENTITAS PENDIDIKAN Oleh: Sayyidi

Dibaca : 548 Pembaca

Belajar adalah rasa ingin tahu terhadap hal yang belum diketahui, rasa ingin tahu ini tumbuh dan muncul dari kesadaran diri melalui proses aktifitas kegiatan sehari hari, baik aktifitas terstruktur maupun tidak terstruktur. Aktifitas terstruktur bisa terjadi di lingkungan pendidikan formal mulai dari pendidikan dasar sampai pada perguruan tinggi maupun di lingkungan pendidikan non formal seperti lembaga pendidikan madrasah diniyah, pondok pesantren atau lembaga kursus dan lain sebagainya. Sedangkan aktifitas tidak terstruktur bisa terjadi kapan dan dimana saja tanpa batas waktu bahkan dari berbagai lingkungan diatas juga bisa terjadi aktifitas kegiatan tidak terstruktur. Kesadaran manusia dari tidak tahu menjadi tahu adalah proses yang  sangat dipengaruhi oleh aktifitas kegiatan terstruktur maupun tidak terstruktur di berbagai lingkungan pendidikan. Dalam konteks itulah  diperlukan adanya pola pendidikan yang tidak terjebak oleh rasa tendensi tanpa memperhatikan kepentingan peserta didik maupun kepentingan publik. Selayaknya pemangku kepentingan berusaha memahami secara benar makna  pendidikan dari aspek kekuatan (strength), kelemahan (weakness), ancaman (threat) dan kesempatan (oportunity). Dimana peran otonomi daerah? Siapa yang bertanggungjawab?

Mari kita berfikit sejenak ketika bayi baru lahir ia menagis dan tidak ada yang mengajari ia cara menangis akan tetapi ini adalah sebuah ilham sang pencipta kepadanya untuk mengajari orang orang di sekelilingnya terutama ibunya agar segera bertindak dan berbuat yang seharusnya. Saat si bayi berumur satu tahun, ia mulai belajar berjalan walau jatuh bangun berkali-kali, namun ia tidak pernah putus asa termasuk keluarganya, dan akhirnya diapun bisa berjalan bahkan berlari cepat. Mengapa? yang jelas karena ia selalu berusaha dan tidak putus asa. Dia yakin bahwa jika mencoba dan mencoba  akan berhasil, apalagi orang tua di sekitarnya selalu memberikan dukungan penuh sebagai motivasi extrinsik. Setiap keberhasilan yang diraih selalu disambut dengan kegembiraan oleh si anak sehingga terpacu untuk meraih kesuksesan. Demikian pula anak yang berumur dua tahun, ia mulai belajar berbicara, melafalkan setiap huruf dari  kata yang tidak jelas menjadi jelas dari tidak fasih menjadi fasih dan seterusnya. Apa upaya pemerintah untuk menanamkan suasana belajar yang harmonis dalam keluarga sementara kebanyakan dari mereka lebih sibuk dengan kerja?

Saat si kecil sudah masuk ke bangku belajar pada tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau sekarang lebih dikenal dengan istilah Kelompok Belajar (KB) sang guru selalu melatih untuk memperkenalkan dirinya sendiri baik secara fisik maupun non fisik ia tanyakan : Ini siapa? Ini apa namanya? Ini apa gunanya?, ia latih bernyanyi, ia ajari bergerak, dan ia rangsang segala potensi dirinya sampai menjelang ke tingkat pendidikan Taman Kanak Kanak (TK) kemudian si anak masuk kelas satu  di tingkat dasar dalam proses pembelajaran biasanya Bapak/Ibu guru bertanya : Siapa yang tahu jawabannya? maka hampir semua anak angkat tangan sambil meloncat kegirangan dari tempat duduknya dengan mengatakan “saya tau pak/bu” lalu sang Bapak/Ibu guru menyebut namanya, saat disebut nama dirinya  tumbuhlah rasa percaya diri dalam hatinya maka dengan penuh keyakinan sang anak menjawab pertanyaan tersebut, lalu apa yang terjadi kalau tiba-tiba Bapak/Ibu gurunya berkata, “bukan.... , itu salah” sejak itulah sang anak mengalami rasa minder dan bersalah sehingga agak susah merangsang kembali potensi dirinya, apalagi yang dikatakatan Bapak/Ibu guru adalah “goblok.... kamu bodoh dan sejenisnya. Lalu apa motivasi pemerintah untuk mewujudkan guru yang tenang mengajar, lebih bershabat dengan siswa, memahami potensi dan latar belakang siswa? Apakah cukup dengan tunjangan guru yang sangat dikeluhkan konsitensinya oleh para pendidik?

Kita sadar bahwa dunia saat ini terkontaminasi oleh dampak kemajuan teknologi, komunikasi dan informasi sehingga terjadi arus interaksi  sosial secara cepat. Gelombang globalisasi ini disatu sisi membawa manfaat bagi manusia tetapi juga berdampak pada timbulnya banyak mudharat. Globalisasi telah mengubah tata kehidupan ekonomi, politik, sosial dan budaya, serta mempengaruhi proses pendidikan secara totalitas. Dalam menghadapi krisis global ini pola pikir dan perilaku manusia dapat diasumsikan pada tiga kelompok:

Pertama, ada yang hanyut dalam perubahan global di berbagai sektor kehidupan termasuk pendidikan. Karenanya, pola pikir manusia sudah dipengaruhi oleh kekuatan materialistik meninggalkan spritualistik dan moralitas, materialistik mengajak pola pikir mereka pada  bagaimana mendapatkan harta yang mudah, banyak dan segala aktifitasnya selalu diukur dengan harta sementara mereka tidak pernah memperhitungkan aspek spritualitas yang lebih mengedepankan keyakinan, ketenangan, dan kedamaian, bahkan aspek moralitas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat juga sudah mulai kurang diperhatikan akibatnya muncullah para koruptor yang terdidik dan terhormat. Dengan demikian, globalisasi bermakna hilangnya identitas diri dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, bahkan bisa jadi jika dibiarkan akan terjadi hilangnya harga diri.

Kedua, dalam kasus globalisasi ada yang bersikap extrim dengan mengharamkan secara totalitas terhadap segala bentuk perubahan yang ditimbulkan, mereka hanya memandang satu sisi saja yaitu akibat nigatif dari proses, andaikan ada orang bersalah karena mencuri mereka menjustifikasi sebagai pencuri tanpa penyebab melainkan memang sudah watak dan tabiat yang dimiliki sebagai pencuri, seolah olah sudah tidak ada kebaikan didalam hatinya, padahal hakekatnya semua manusia di dunia ini ingin baik tetapi karena terpaksa ia berbuat walaupun bertentangan dengan hati nuraninya, menurut penulis seharusnya perlu diklarifikasi terlebih dulu kenapa ia mencuri? Karena terpaksa atau memang sudah profesinya?. Mereka juga beranggapan bahwa globalisasi bisa melahirkan fundamentalisme agama sebagai pihak kontra-globalisasi yang mengarah kepada sikap dan perilaku ekstrim yang berwujud terorisme dan rasisme, dan bisa pula melahirkan pluralisme sebagai pihak pro-globalisasi yang lebih mengedepankan Hak Asasi Manusia (HAM), keberagaman agama, perbedaan keyakinan, dan ketidaksamaan budaya yang ending-nya menurut persepsi mereka  harus siap dan menerima kesalahan yang dibenarkan.

Ketiga, kelompok yang terahir ini menurut penulis yang lebih bijaksana, mereka  mengambil sikap menerima dengan men-filter segala wujud perubahan globalisasi melalui berbagai prinsip sosiokultural bangsa Indonesia antara lain: prinsip relegius, prinsip ini menjadi modal utama masyarakat Indonesia dalam menyikapi arus globalisasi yang semakin tidak bisa dibendung, peran agama menjadi sangat penting bagi anak yang ditanamkan di lingkungan keluarga, di lingkungan sekolah, dan di lingkungan masyarakat sebab lingkungan agamis secara spontan akan mengajak anak untuk patuh dan taat berbuat baik serta menyenangi hal hal positif bagi dirinya sendiri. Disisi lain mereka memiliki prinsip historis yang esensi-nya bahwa dalam catatan sejarah bangsa Indoensia memiliki budaya luhur yang mengedepankan etika sosial yang humanis, bagaimana mereka menghormati budaya? bagaimana mereka menghargai dirinya sendiri? Dan bagaimana mereka menghargai orang lain?. Sebagai makhluk sosial mereka telah mewarisi budaya luhur yang perlu dijaga dan dilestarikan dalam kehidupan sehari hari sebagai kontrol identitas diri dan kepribadian bangsa untuk itu mereka tetap menghargai dan menghormati orang lain dalam berbagai interaksi sosial dan tidak beranggapan hanya dirinyalah yang benar. Lain halnya dengan prinsip filosofis yang lebih mengedepankan bukti empiris, mereka berkeyakinan esensi kehidupan adalah kebaikan, hal yang baik untuk tujuan kebaikan akan menghasilkan kebaikan pula, hal yang jelek kalau untuk tujuan kebaikan akan dapat mengantarkan pada kebaikan, sebaliknya juga demikian, hal yang baik sekalipun kalau untuk tujuan kejelekan akan berakibat pada kejelekan apalagi hal yang jelek untuk tujuan kejelekan pasti dijamin  berakibat jelek.  Asumsi ini menbawa kita untuk berfikir pada fenomena sosial yang terjadi, dalam catatan kehidupan hampir dipastikan terjadi, orang berbuat baik  dibalas dengan kebaikan sudah lumrah, orang berbuat baik dibalas dengan kejelekan kadang ada, orang berbuat jelek dibalas dengan kejelekan sudah biasa, tetapi sangat jarang orang berbuat jelek dibalas dengan kebaikan, intinya memandang baik dan jelek itu tidak cukup pada hasil atau akibat akan tetapi bagaimana prosesnya? Siapa yang memproses? Taruhkan sebagai contoh HP sebagai dampak globalisasi, HP bisa digunakan untuk hal positif juga bisa untuk hal negatif tergantung pengguna maunya apa? Nah tugas kita adalah bagaiman menfilter kemauan anak anak bangsa melalui prinsip relegius, historis, dan filosofis. Hal ini sebagai wujud sikap ikhtiyar melahirkan kesadaran untuk melepaskan diri dari kekuatan negatif thingking arus globalisasi yang menindas pola pikir positif yang bisa diperoleh melalui proses pendidikan yang bermartabat (progressive education).

 

Manusia selalu intens dengan pendidikan karenanya ia dikenal dengan istilah animal educandum dan animal educandus, yaitu makhluk yang dididik dan yang mendidik. UNESCO mencanangkan konsep life long education yang berlangsung sejak dari buaian ibu hingga liang lahat hal ini senada dengan konsep ajaran Islam yang mencangkan pendidikan sejak lahir hingga ke liang lahat, Karenanya, UNESCO juga mengajukan empat pilar pendidikan, yaitu :(1) Learning to know, (2). Learning to do, (3). Learning to be, (4). Learning to live together.

Dalam perspektif ini pendidikan adalah upaya membimbing peserta didik untuk mencapai kedewasaan atau dalam istilah Ki Hajar Dewantara mendidik adalah menuntun segala potensi kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan berarti upaya transformasi ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), pengayaan nilai (transfer of value), pengetahuan tentang karakter kebudayaan (transfer of culture), dan penanaman nilai keagamaan (transfer of religius) yang diarahkan pada upaya untuk “memanusiakan manusia”. Upaya seperti itulah hakikat pendidikan, yaitu berorientasi pola perubahan perilaku individu agar memiliki nilai-nilai luhur, cerdas dan terampil.

Al-hasil, hakikat pendidikan yang memanusiakan manusia dapat dirumuskan dalam lima domain: (1) pendidikan sebagai proses interaksi manusiawi yang seimbang antara kedaulatan anak didik dengan pendidik; (2) Pendidikan merupakan usaha regeneration anak didik untuk menghadapi lingkungan yang selalu mengalami perubahan; (3) Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi masyarakat; (4) pendidikan berlangsung seumur hidup; (5) pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi.

Berita Terkait

Pengarahan Kepala Sekolah dihari Pertama Masuk
SMK Syarifuddin Divisitasi; Semua Jajaran Dilibatkan
Penambahan Wawasan Keagamaan, Bagi Calon Alumni SMK Syarifuddin
SMK Syarifuddin Gunakan kesempatan pada Syarifuddin Competition IV
Syarifuddin Competition IV, Tembus Peserta Terbanyak
Drs. H. Fanandri, MM. Lakukan Supervisi Perpanjangan Izin Operasional
PBB membangun karakter siswa cinta NKRI
Sholat Jamaah Perkuat Karakter Islami Siswa
SMK Syarifuddin Tentukan 5 Terbaik di Haflah Takrimiyah XXXVIII
Bupati Lumajang Beri Semangat Siswa Tamat SMK Syarifuddin.